cinta ibu


Leave a comment

Belajar dari Ikan

Warna putih yang katanya suci sudah ternodai. Warna merah yang matanya berani sudah tak ada nyali.
Carut marut sikat sikut…..
Hidup seperti di hutan belantara yang tak ada rambu.

Lantas harus bagaimana kita ?

Umpama tempat kita hidup adalah lautan, jadilah kita seperti ikan.
Walau hidup dalam Lautan, tak membuat dagingnya ikut-ikutan menjadi asin. Salam

_/\_ PANCA


Leave a comment

Belajar dari mata dan sungai

Organisasi, apapun bidangnya, seberapapun ukurannya membutuhan sistem agar bisa berjalan normal.

Sistem terdekat yang dapat kita pelajari organ tubuh. Belajarlah dari mata. Dia memiliki sistem pengendalian dan perlindungan diri yang baik.

Ambil contoh ketika mata kemasukan benda dari luar yang out of sistem.
Sedemikian cepatnya mata merespon untuk melindungi mata dari sesuatu yang berpotensi mengganggu fungsi mata.

Continue reading


Leave a comment

Lidah adalah Api

Manusia mengendalikan kekang pada mulut kuda agar bisa mengendalikan dan menuruti kehendak manusia.

Demikian juga kapal, walaupun amat besar dan digerakan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yan amat kecil menurut kehendak sang jurumudi.

Demikian juga lidah, walaupun cuma anggota kecil dari tubuh namun dapat memegahkan perkara kecil menjadi besar.

Lihatlah api, walaupun kecil dia dapat membakar hutan yang besar.

Lidahpun adalah api, dia kecil tetapi dapat menodai kebesaran jiwa manusia.

Banyak manusia mampu menguasasi binatang liar dan banyak juga manusia kesulitan untuk menguasai lidahnya sendiri.

_/\_ PANCA


2 Comments

Serial Cerita Hikmah: Pohon Gandum dan Ilalang

Blogger, apakah kamu melihat kondisi psiko-sosial bangsa yang carut marut ini ?

Orang-orang merasa yang paling benar sementara yang lain menunjuk hidung orang lain.

Merasa tak cukup kuat seorang diri… mereka bentuk komuni demi memperkuat opini.

Kalo sudah seperti ini siapa benar siapa salah ?

Alkisah, saya tengah melakukan perjalanan di sebuah kebun luas.  Di ladang kebun ini pepohonan diberi kebebaskan untuk tumbuh. Masih pada jarak pandang saya melihat ada 2 orang sedang duduk dikursi tengah menunjuk sesuatu dikebun. Dari kelihatannya seru sekali apa yang mereka lakukan… ngotot dan saling mempertahankan pendapat.

Karena saya harus tetap melewati jalan yang lurus itu … mau tak mau perjalanan saya nantinya pasti terlihat oleh mereka. Seperti yang sudah saya duga ..keseruan mereka terganggu oleh kehadiran saya.

Dalam situasi seperti ini saya adalah orang ketiga diantara mereka.

Belum juga saya bertanya… mereka sudah menceritakan apa yang tengah mereka debatkan.

Tahulah saya mereka tengah  perdebatkan pepohonan diantara kebun itu. Orang yang berbaju warna warni mengatakan itu pohon ilalang sementara orang yang berkain mengatakan kalo itu pohon gandum. Lucu sekali mereka terus berusaha mempengaruhi saya untuk memihak ke salah satu pendapat.

Saya katakan pada mereka “Pada usia segini mana pohon gandum mana ilalang sulit dibedakan… duduk saja kalian disini sampai masa panen tiba pasti nanti terlihat mana pohon gandum dan yang mana ilalang.. jika sudah terlihat pisahkan saja pohon gandumnya dan kalian bakarlah ilalangnya”.

Sayapun berlalu. Mereka menunggu.

Salam.

Panca.


2 Comments

Serial Cerita Hikmah: Monyet Dan Angin Besar

Alkisah, ada seekor monyet lagi bergelantungan didahan pohon tinggi. Pada hari itu angin bertiup cukup kencang tapi si monyet asik aja bergelantungan. Tak lama anginpun bertiup lebih kencang.. pun monyet tetap tenang tak panik… dia tetap aja asik bergelantungan.

Bahkan … pas angin bertiup semakin dan semakin kencang .. si monyet tetap survive bergelantungan di dahan pohon tidak terjatuh.

Lalu pada suatu hari… masih pada dahan pohon  yang sama… si monyet ada pada posisi bergelantungan.

Kali ini angin bertiup tak sekencang hari-hari sebelumnya.

sepoi, adem… segerrr… hingga membuat monyet lupa sedang berada diatas dahan pohon tinggi.

Gubrak!!!! terjatuhlah dia!

Continue reading


2 Comments

Serial cerita hikmah: Salmon dan Hiu

Salmon dan Hiu.

Adalah para nelayan dari negara Jepang mereka menangkap ikan salmon di perairan di Korea. Ikan-ikan salmon yang ditangkap dimasukan kedalam tanki kolam di kapal karena ikan perlu dibawa ke pelabuhan di Jepang dalam keadaan hidup.

Singkat cerita, setiap mereka selesai  menangkap ikan lalu berangkat pulang ke Jepan.

Setiba mereka di pelabuhan rupanya ikan salmon-nya mati semua. Dengan kejadian ini para nelayan dibikin kreatif dan meneliti bagaimana caranya agar ikan tangkapan tetap hidup sampai di pelabuhan di Jepang

Bermacam cara diteliti. Berbagai macam teknik diaplikasikan. Tapi tetap saja ikan hasil tangkapan tetap mati. Walaupun masih ada yang hidup tapi hanya sebagian kecil saja.

Sampai di suatu titik, mereka pasrah. “Yang penting ikan masih dalam keadaan segar”.

Waktu terus berputar.

Pada suatu ketika di pelabuhan di Jepang terjadi kegaduhan. Ada satu kapal nelayan yang pulang dari menangkap ikan datang. Rupanya ikan-ikan Salmon yang ada didalam tanki kolam masih pada hidup dan berlarian lincah.

Setelah diperhatikan rupanya ada satu ikan hiu kecil seukuran ikan salmon yang ikut terbawa masuk kedalam tanki kolam. Ikan hiu itu berusaha untuk memangsa si salmon sedangkan ikan salmon berusaha untuk bertahan hidup.

Hingga pada akhirnya mereka para nelayan menemukan cara agar ikan salmon hasil tangkapan tetap hidup, yaitu dengan memasukan ikan hiu kedalam tanki kolam.

Dari cerita diatas dapat kita ambil hikmahnya bahwasanya karena ada suatu masalahlah maka ikan-ikan salmon tetap hidup. Begitu juga dengan manusia. Masalah harus bisa membuat kita bertahan hidup. Masalah tidak harus dihindari tetapi harus dihadapi.

Salam
Panca

Followme: @pancagram

Serial Cerita Hikmah lainnya: https://panca.wordpress.com/2013/01/07/serial-cerita-hikmah-monyet-dan-angin-besar/