cinta ibu

Homeschooling: 11 Karakteristik Pendidikan Charlotte Mason

Leave a comment


Apa kekhasan pendidikan Charlotte Mason dibandingkan sistem pendidikan dan metode homeschooling lainnya? Ide-ide pendidikan apa saja yang ia tawarkan kepada kita? Dengan enam volume buku yang masing-masing tebalnya 300-an halaman dan berbagai artikel lepas yang ia tulis, mustahil meringkas semua pemikirannya ke dalam beberapa butir saja. Tetapi demi mendapatkan suatu tinjauan umum sebelum memutuskan apakah Anda menyukainya, saya ingin membantu Anda memahami konsep-konsep kunci dari metode Charlotte Mason.
1. Pendidikan Liberal

Di era Victoria, masyarakat Inggris sangat tersekat oleh kelas-kelas sosial. Hanya anak-anak dari keluarga kaya yang berkesempatan mencicipi pendidikan dan kehidupan yang berbudaya, sementara anak-anak miskin dipandang rendah dalam martabat maupun kapasitas — dalam istilah Jawa: bibit, bebet, bobot. Diskriminasi juga berlaku dalam hal gender; hak untuk pendidikan tinggi hanya untuk anak laki-laki. Anak perempuan cukup belajar keterampilan rumah tangga saja karena kelak ia ‘hanya’ akan menjadi ibu. Charlotte menolak semua diskriminasi itu. Baginya semua anak sama-sama mampu dan berhak untuk mengenyam pendidikan sebaik mungkin. Lewat metode pendidikannya, ia membuktikan bahwa jika prinsip-prinsip pendidikan yang benar dijalankan,  “anak yang cerdas akan dipuaskan, dan anak yang lamban dicerdaskan”.
2. Karakter sebagai Tujuan

Seorang anak harus dibesarkan bukan cuma untuk menjadi kebanggaan bagi dirinya sendiri atau keluarganya, tapi juga bagi bangsanya, umat manusia, serta Tuhan. Oleh karena itu, urusan pendidikan bagi Charlotte bukan cuma soal mata pelajaran verbal-matematis atau keterampilan untuk mencari nafkah. Tujuan utama pendidikan adalah pembangunan karakter yang luhur dalam diri anak. “Bakat, IQ, kejeniusan, banyak terkait faktor genetik; namun karakter adalah prestasi, suatu pencapaian nyata yang terbuka kemungkinannya bagi siapa saja, baik bagi kita orang dewasa maupun bagi anak-anak kita; dan kehebatan sejati dalam sebuah keluarga atau seorang individu dinilai dari karakternya. Orang-orang besar kita anggap besar semata-mata karena kekuatan karakter mereka.” (Charlotte Mason, vol. 2 p. 72)

3. Buku-buku Berkualitas (living books)

Charlotte mengibaratkan pikiran anak ibarat tubuh jasmani yang perlu makanan yang bergizi. Gizi itu adalah ide-ide inspiratif — “pikiran-pikiran akbar, peristiwa-peristiwa akbar, perenungan-perenungan akbar” (Vol. 6 h. 5) yang membentuk bangsa dan dunia kita — yang ditransfer “dari pikiran ke pikiran” terutama lewat buku-buku. Maka, Charlotte tak pernah lelah menekankan pentingnya menyajikan buku-buku terbaik sebagai materi pelajaran anak: ditulis langsung oleh si pemikir, tidak diringkas menjadi buku teks atau lembar kerja siswa yang garing; ide itu musti dibaca secara utuh, bukan hanya dicuplik sana sini dan diberikan kepada anak secara sepotong-sepotong.


Picture

4. Kurikulum yang Kaya (generous curriculum)Selain bergizi, nutrisi pikiran perlu bervariasi. Setiap anak itu unik, kita tidak pernah tahu ide mana yang membangkitkan minatnya, maka kita musti menyediakan kurikulum yang sekaya mungkin. Sastra, puisi, sejarah, geografi, sains, agama, bahasa asing, matematika, hasta karya, pertukangan, studi karya seni — daftar ini masih berlanjut jika kita ingin menyebut semua mata pelajaran yang terdaftar dalam kurikulum sekolah Charlotte, dan materinya haruslah karya-karya terbaik yang mungkin diperoleh untuk subjek itu.5. Durasi Belajar Pendek (short lessons)

Jam belajar di sekolah Charlotte untuk usia sekolah dasar kurang lebih 3-4 jam sehari, dimulai jam 9 dan diakhiri pada jam makan siang. Bagaimana mungkin mempelajari begitu banyak subjek dalam waktu begitu singkat? Kuncinya adalah prinsip durasi belajar yang pendek. Charlotte sangat memahami tahap perkembangan anak yang belum mampu mempertahankan atensi dalam waktu lama. Daripada belajar lama-lama tapi pikiran anak melayang ke mana-mana, lebih efektif belajar dalam waktu singkat tapi anak diajari berkonsentrasi penuh. Pada usia sekolah dasar, Charlotte hanya merekomendasikan 10-20 menit untuk satu pelajaran.

6. Narasi

Charlotte menganggap teknik terbaik untuk mengevaluasi seberapa banyak pengetahuan yang bisa anak serap dari materi pelajarannya adalah narasi, bukan soal pilihan ganda, “isilah titik-titik di bawah ini”, dan tes-tes komprehensi semacamnya. Narasi berarti meminta anak menceritakan kembali apa yang ia tangkap dari bahan bacaannya. Dengan membuat narasi, anak melatih semua keterampilan intelektualnya sekaligus — memori, imajinasi, daya nalar, retorika.

7. Tidak Ada Kompetisi

Motivasi anak untuk belajar semestinya berasal dari rasa ingin tahu yang secara alamiah tertanam dalam dirinya sejak lahir. Charlotte menolak segala macam pemeringkatan, pemberian hadiah-hadiah, dan motivasi lain yang bersifat kompetitif karena itu akan membuat anak tergantung kepada dorongan eksternal dan akhirnya menggantikan, atau bahkan mematikan, kecintaan belajarnya yang alami.

8. Tidak Ada PR

Bermain, kata Charlotte, harus dipandang sama pentingnya dengan belajar. Hidup anak tidak boleh terlalu tersita oleh pelajaran akademis. Waktu dari pagi hari setelah sarapan sampai jam makan siang sudah cukup untuk menggarap subjek-subjek intelektual yang menguras mental. Setelah itu biarkan anak bermain bebas, berjalan-jalan di alam terbuka, dan menggarap proyek-proyek lain yang ia sukai. Maka, sekolah Charlotte tidak pernah memberikan PR kepada para siswanya.

9. Cara Belajar Siswa Aktif

Charlotte menganut hukum emas Comenius, “Hendaknya guru mengajar lebih sedikit supaya siswa belajar lebih banyak”. Bolak-balik dalam tulisannya ia mengingatkan para pendidik untuk tidak mengambil alih peran anak dalam mencerna pelajaran. Biarlah anak belajar langsung dari para pemikir besar dalam buku-buku yang ia baca, lalu menyimpulkan sendiri makna dan pesan moral yang tersimpan di dalam buku-buku itu. Metode ini melepaskan beban mengajar dari pundak guru, sekaligus mengkondisikan anak menjadi pembelajar mandiri dengan kekuatan mental yang semakin bertambah karena terus dilatih menyerap sendiri pengetahuan.

10. Akrab dengan Alam (outdoor life & nature study)Khususnya pada enam sampai tujuh tahun pertama usianya, Charlotte berharap agar anak-anak dibiarkan untuk menjelajah dunia sebebas mungkin. Orangtua tidak perlu membebani mereka dengan pelajaran formal seperti belajar membaca, menulis, atau berhitung. Pada usia emas ini, urusan anak adalah menjelajah alam semesta dan isinya (nature study). Salah satu saran Charlotte bagi anak-anak usia dini – yang barangkali terasa nyeleneh di era digital ini – adalah supaya mereka banyak-banyak menghabiskan waktu bermain dan menjelajah di alam terbuka (out-of-door life). Tidak hanya 1-2 jam, Charlotte menyebutkan target ideal 4-6 jam dalam sehari! Nantinya ketika pelajaran akademis telah dimulai, kegiatan di luar ruangan dan nature study ini lebih diarahkan untuk mengembangkan kebiasaan ilmiah anak: daya perhatian, kecermatan observasi, kebiasaan mencatat dengan teliti apa yang diamati di alam, dan seterusnya.
11. Habit Training dan KeteladananSatu hal yang membuat saya terpikat begitu mengenal metode Charlotte Mason adalah konsepnya tentang habit trainingsebagai teknik praktis pendidikan karakter. Education is a discipline, kata Charlotte. Disiplin itu berarti orangtua secara terencana dan sistematis melatihkan kebiasaan-kebiasaan baik ke dalam hidup sehari-hari anak. Seorang anak yang telah terbiasa memikirkan perkara-perkara mulia dan luhur, sampai kebiasaan itu terbentuk sebagai karakternya, akan lebih sulit mengubah dirinya menjadi pribadi yang suka berpikir jahat. Charlotte mengumpamakan habit training ini seperti proses memasang rel-rel kereta api. Sudahkah orangtua secara serius memikirkan jalur mana yang musti ditempuh anak agar gerbong-gerbong kehidupannya bisa sampai ke stasiun tujuan? Maka ke sanalah sepatutnya mereka secara konsistenmemasang lintasan-lintasan yang nyaman untuk dilewati agar “si pelancong kecil bisa melaju dengan kecepatan penuh”. Yang tak kalah penting adalah prinsip Education is an atmosphere, anak menyerap pengaruh lingkungan sama seperti ia menghirup udara untuk bernafas, maka orangtua dan guru musti bertindak selaras dengan perannya sebagai pemberi inspirasi bagi anak-anak. Seperti kata Naomi Aldort, raising children is raising ourselves, mendidik anak-anak pada hakikatnya adalah mendidik diri sendiri.

Author: Panca

Berupaya memfasilitasi hak pendidikan anak-anak Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s