cinta ibu

Case Study: “Sharepoint, harus memulai dari mana ?”

3 Comments


Ya. Harus dimulai dari mana ? pertanyaan yang sederhana dan mendasar.

Cukup mendasar tapi menjadi suasana hangat ketika manajemen melontarkan pertanyaan itu. Kami cukup bingung menjawabnya karenakan memang belum punya dasar dan data yang cukup untuk menjawab.

Secara teknis, kemampuan teman-teman yang tergabung dalam developer team tidak perlu diragukan. Pun demikian, pertanyaan ini memeras otak kami. Bagaimana tidak ? tiap orang punya pandangan yang berbeda. Semua pandangan memang bagus , bagus dalam artian tidak menyalahi standard best practise. Tetapi di kick of meeting ini terbukalah bahwa persepsinya masih berbeda-beda.

Sebagai team leader, saya punya PR untuk menyatukan persepsi dan menjawab pertanyaan “harus mulai darimana?”.

Jujur saja, saya tergelitik dan tertantang dengan pertanyaan itu. Sayapun melakukan pencarian untuk menemukan jawabannya.

Pasca meeting, saya menelusuri berbagai tempat, berbagai groups, berbagai forums dan berbagai macam resources lain yang membahas tentang Sharepoint.

Artikel dan berbagai case study yang konteksnya related saya pelajari.

Alhasil, saya baru menyadari bahwa pertanyaan “harus memulai darimana?” sama seperti pertanyaan “duluan mana ayam dan telur?”.

Tiap-tiap orang mempunyai perspektif jawaban yang berbeda-beda, bukan ? Bahkan bukan tidak mungkin 2 orang filsuf bisa membahas ayam dan telur hingga berbulan-bulan tanpa pernah selesai.

Perlu waktu cukup lama hingga saya menemukan jawaban yang saya cari. Apakah jawabannya ?

Jawabannya adalah : “walk before run” .

Ya. WALK BEFORE RUN.

Melalui istilah ini kami menemukan kesamaan dan jawaban bahwa dari berbagai masukan dan pendapat yang ada kita tidak perlu ragu atau bingung untuk memulai dari mana. Yang paling penting adalah kita harus bisa mengambil keputusan untuk memulai dari mana.

Manajemen-pun sepakat dengan jawaban tersebut lalu munculah pertanyaan berikutnya yaitu tentang strategi pembangunan Sharepoint.

Untuk pertanyaan itu kami sudah siap dengan jawabannya sembari mengeluarkan bermacam macam worksheet berdasarkan best practise dari Microsoft.

Lalu apa inti dari tulisan saya ini ? Pesan dari Case Study ini adalah bahwa dalam membangun Sharepoint janganlah kita terpaku kepada textbook. Kenapa? karena Sharepoint itu sangat dinamis dan menuntut kita untuk improvisasi.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat teman-teman yang baru pertama kali akan melaksanakan pembangunan Sharepoint.

Salam.

Author: Panca

Berupaya memfasilitasi hak pendidikan anak-anak Indonesia

3 thoughts on “Case Study: “Sharepoint, harus memulai dari mana ?”

  1. memang pertanyaan itu pak yang selalu saya tanyakan saat ini…

    terimakasih penerangan nya…
    baru pengen nyentuh sharepoint niy..🙂

    tq

  2. Pingback: Kumpulan Arsip Dokumentasi Konfigurasi Sharepoint 2007 « PANCA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s