cinta ibu

Tahap perencanaan pembangunan Disaster Recovery Plan

25 Comments


Tujuan Disaster Recovery Plan (DRP) yang utama adalah untuk menyediakan suatu cara yang terorganisir untuk membuat keputusan jika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Tujuan DRP adalah untuk mengurangi kebingungan organisasi dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk berhubungan dengan krisis tersebut. Sesungguhnya, ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi, organisasi tidak akan mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan melaksanakan suatu rencana pemulihan dengan segera. Oleh karena itu, jumlah perencanaan dan pengujian yang telah dilakukan sebelumnya akan menentukan kemampuan organisasi tersebut dalam mengangani suatu bencana.
DRP mempunyai banyak sasaran, dan masing-masing sasaran tersebut penting.

Sasaran-sasaran DRP meliputi:

  • Melindungi suatu organisasi dari kegagalan penyediaan jasa komputer.
  • Memperkecil risiko keterlambatan suatu organisasi dalam menyediakan jasa
  • Menjamin keandalan sistem melalui pengujian dan simulasi
  • Memperkecil pengambilan keputusan oleh personil selama suatu bencana

Langkap point-point yang perlu dilakukan dalam rencana kerja penyusunan DRP adalah melakukan :

  • Project Initiation
  • Project Scheduling
  • Business Impact Analysis
  • Backup and Recovery Strategy
  • Initial Implementation
  • Post Implementation

Demikian point-point yang diperlukan, mengenai penjabaran dari point-point dimaksud akan saya coba share pada postingan berikutnya

Author: Panca

Berupaya memfasilitasi hak pendidikan anak-anak Indonesia

25 thoughts on “Tahap perencanaan pembangunan Disaster Recovery Plan

  1. Mas panca, saya sedang mencari resources tentang DRP, tapi yang bahasa indonesia gak banyak ya…. 😀. untung saya nemuin blog ini, mas panca saya boleh tanya kan .. didalam tulisan mas panca disebutkan peristiwa gangguan yang terjadi. di DRP apa yang termasuk dalam peristiwa gangguan tersebut? balas ya . please please… terimakasih

    oh iya. salam kenal🙂

  2. @ Hendriawan, salam kenal juga. saya akan coba menjawab pertanyaan mas hendri.
    Peristiwa gangguan yang terjadi itu yang disebut sebagai bencana.
    Bencana(Disaster) didefiniskan sebagai kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat diprediksi dan bersifat merusak. Pengertian ini mengidentifikasikan sebuah kejadian yang memiliki empat faktor utama, yaitu (1)tiba-tiba (2) tidak diharapkan (3) bersifat sangat merusak (4) kurang perencanaan.

    Bencana terjadi dengan frekuensi yang tidak menentu dan akibat yang ditimbulkannya meningkat bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan timbulnya bencana. Rencana pencegahan dan perbaikan terhadap bencana dapat membantu melindungi semua aset organisasi, termasuk sumber daya manusia, pekerjaan, data-data penting, dan fasilitas organisasi.

    Memang masih banyak yang keliru dalam mendefinisikan terminologi Disaster. Apalagi jika kita mengacu kepada kejadian Bencana Tsunami di Aceh (Tsunami Disaster), mengakibatkan banyak yang menganggap Disaster itu identik dengan bencana alam seperti yang terjadi Aceh.

    Dalam DRP, bencana didefinisikan secara luas. Cakupan bencana tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik saja, tetapi didefinisikan juga hingga hilangnya data maupun sumber informasi, bahkan kematian dari pekerja yang akhirnya mempengaruhi suatu organiasi dikategorikan sebagai bencana.

    Didalam DRP, bencana dapat dikategorikan sebagai :
    (-) Keamanan pada elektrik
    (-) Virus komputer
    (-) Kerusakan pada hardware
    (-) Kebakaran
    (-) Kelebihan daya listrik yang akhirnya merusak
    (-) Keamanan fisik, seperti :
    (+) Force Majeur
    (+) Banjir
    (+) Badai
    (+) Petir
    (+) Pencurian
    (+) Sabotase
    (+) Demonstrasi oleh pekerja

    Demikian mas hendri, semoga saja jawaban saya dapat membantu mas hendri

  3. suatu perusahaan bagusnya punya DRP….
    ngomongin DRP jadi inget Hot Site dan Cold Site…..

    oot: situsnya bagus ketika saya blok tulisannya maka background jadi orange *saya pake firefoX*.

  4. @randi untuk perusahaan yang udah ‘melek’ biasanya sudah mengimplementasikan DRP. kalo kasus di Indonesia, perusahaan yang sudah pernah ngerasaain datanya amblas karena bencana baru menerapkan DRP. Oleh karena itu sebaiknya DRP lebih disosialisasikan lagi.

    btw salam kenal untuk randi

  5. Salam,
    Mas Panca…perkenalkan nama saya didik dari pusat studi manajemen bencana upn veteran yogya, ada beberapa hal yang mungkin perlu saya share ke kawan-kawan dalam konteks disaster…
    Untuk definisinya disaster mungkin kawan-kawan bisa merujuk ke UU PB No. 24 tahun 2007. Secara sederhana disaster bisa dibahasakan demikian :
    Bencana = Ancaman + Kerentanan

    Nah ancaman bisa datang dari alam (geologis) gunung meletus, gempa, tsunami, longsor, (hidrometeorologis) badai, topan, banjir, kekeringan dll, nah kalo dari manusia bisa berupa konflik, perang, kegagalan teknologi seperti kebocoran nuklir dll. nah dalam konteks ini kita harus paham dulu mengenai ancaman apa yang ada di sekitar perusahaan kita. Misalnya letak gedung/lokasi perusahaan kita bisa terancam fenomena/kejadian apa? Misalnya saja perusahaan kita terancam banjir yang datang (karena pernah terjadi misalnya) kita ketahui dulu karakter ancamannya, misalnya saat kedatangannya kapan (musim penghujan), kemudian durasi waktunya berapa lama (apakah banjirnya numpang lewat atau menggenang beberapa hari), nah setelah kita tau karakter ancaman beserta akibat yang bisa ditimbulkan,baru kita menganalisis kerentanan yang ada di perusahaan kita. Biasanya tools yang sering dipakai untuk alat analisisnya adalah aset kehidupan (manusia, lingkungan, sosial, ekonomi dan infrastruktur) Misalnya di sisi manusia (seluruh karyawan dan pimpinan mengetahui nggak ancaman yang terjadi di sekitar perusahaan, mengetahui cara menghadapi ancaman nggak dll), di sisi lingkungan (bagaimana kondisi sekitar lingkungan perusahaan itu, apakah memicu datangnya ancaman misalnya lokasi perusahaan berada di jalur rawan gempa, apakah lokasi perusahaan berada di wilayah rawan banjir dll), di sisi sosial (dalam konteks perusahaan ini bisa dimaknai sebagai relasi antar staff, relasi perusahaan dengan lembaga yang terkait dengan kebencanaan, apakah perusahaan menerima informasi secara reguler tentang kondisi terkini dari BMG misalnya, atau bagaimana perusahaan mengakses informasi yang terkait dengan kebencanaan dll) di sisi ekonomi (dalam konteks ini investasi yang dialokasikan untuk membangun sistem kesiapsiagaan terhadap ancaman sudah sepadan dengan manfaat yang akan diperoleh dll), nah di infrastruktur (dalam konteks ini apa yang harus dilakukan oleh perusahaan untukmenghadapi ancaman, misalnya harus menambah ketinggian lantai sehingga tidak terkena banjir, atau menempatkan data-data yang penting di bagian yang diperkirakan tidak akan terkena genangan air, dalam konteks gempa apakah peralatan/perlengkapan yang vital bagi perusahaan di ikat sehingga tidak terjatuh sewaktu gempa datang, atau peralatan tersebut bisa dipastikan aman dari reruntuhan seandainya gempa terjadi dll)
    Nah dari apa yang sedikit saya sampaikan ini, kita bisa mengatakan bahwa apa yang disebutkan bencana oleh Mas Panca kurang tepat karena seperti keamanan dari elektrik dll itu merupakan kerentanan saja. Demikian juga seperti Banjir, Badai, Petir dll ini hanya fenomena saja, nah baru dikatakan bencana apabila ada banjir yang melumpuhkan aktivitas perusahaan misalnya.
    Nah kalo ada banjir tapi tidak melumpuhkan aktivitas vital perusahaan kita ya kita tidak bisa menyebut bahwa itu bencana ……
    Ok segini dulu share wacana mengenai disaster manajemen dari saya, kapan-kapan disambung lagi ya bagaimana membuat SOP di perusahaan untuk disaster preparedness termasuk proses-proses pengkajian yang harus dilakukan sebelum membuat SOP.

    Salam,
    Didik S Mulyana

  6. @Didik
    Salam kembali untuk Mas Didik S Mulyana, senang sekali blog saya disinggahi rekan dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogya. Terimakasih saya ucapkan karena berpartisipasi dan bersedia share kepada saya dan tentunya teman-teman lain yang kebetulan singgah ke blog ini. Mudah2an saja hasil diskusi ini menjadi bermanfaat dan menjadi salah satu referensi tentang manajemen bencana. Amin.

    Mas Didik bilang:
    “Mas Panca … dalam konteks wacana disaster manajemen, apa yang disebut DRP tersebut sebenarnya yang lebih tepat adalah menyusun rencana kontijensi (Contigency Planning) walau cuma mau dilihat dalam sisi sistem informasinya, jadi bisa dikatakan misalnya perusahaan/lembaga kita berada di daerah rawan banjir maka kita harus ketahui dulu karakter banjirnya.”.

    Mas Didik ysh, Apa yang Mas Didik bilang tidak salah,FYI, Disaster Management Plans (DRP) memiliki beberapa sebutan, seperti Business Continuity Plans (BCP), Contigency Plans, Continuity Plans, Emergence Response Plans, Business Recovery Plans, atau Recovery Plans… yang pada keseluruhannya mendefinisikan manajemen bencana sebagai “prosedur yang disepakati untuk merespon suatu keadaan darurat yang diakibatkan karena bencana, menyediakan backup operasi selama gangguan (akibat bencana) terjadi, mengelola pemulihan dan menyelamatkan proses sesudahnya”. Adapun sasaran dari Plans ini adalah untuk menyediakan kemampuan dalam menerapkan kritikal proses dilokasi lain dan mengembalikannya ke lokasi dan kondisi semula dalam suatu batasan waktu guna memperkecil kerugian kepada organisasi.

    Mas Didik bilang:
    “ada beberapa hal yang mungkin perlu saya share ke kawan-kawan dalam konteks disaster…
    Untuk definisinya disaster mungkin kawan-kawan bisa merujuk ke UU PB No. 24 tahun 2007. Secara sederhana disaster bisa dibahasakan demikian :
    Bencana = Ancaman + Kerentanan “

    Mas Didik ysh, UU No. 24 2007 cukup baik untuk menjadi salah satu rujukan, tetapi UU ini masih banyak sekali kekurangannya tentang mendefinisikan apa itu disaster. UU No. 24 2007 mendefinisikan disaster secara sempit kepada hal-hal fisik seperti bencana banjir, gunung meletus, gempa , pengungsi, pendanaan, peta rawan bencana, UU ini belum mencakup dan mendefinisikan skup bencana, tata cara penanggulangan ,akibat yang terjadi dan usaha untuk meminimalisir kerugian akibat bencana. UU ini mendefinisikan / melihat bencana sebagai suatu penyebab kejadian (akibat alam) yang dampaknya sangat merusak dan menyebabkan kematian dan kerusakan besar2an (fisik) .
    Dalam hal Manejemen Bencana, selain UU No.24 2007, ada baiknya membaca referensi-referensi tentang “What is Disaster”. Seperti : Disaster Recovery & Business Continuity (e-janco) , Disaster Recovery Plans ( Bell Atlantic Federal CommGuard), GSA Disaster and Recovery Business, Comdisco, ARC Disaster Recovery Services, ISO 17799 Contigency Audit, Disaster Impact Analysis (BinaryNine, Ltd), Designing A Recovery Strategy (info-tech research group), Information Technology Infrastructure Library (ITIL) by Cisco, HP, Microsoft dan banyak lagi.

    Mas Didik bilang:
    “di infrastruktur (dalam konteks ini apa yang harus dilakukan oleh perusahaan untukmenghadapi ancaman, misalnya harus menambah ketinggian lantai sehingga tidak terkena banjir, atau menempatkan data-data yang penting di bagian yang diperkirakan tidak akan terkena genangan air, dalam konteks gempa apakah peralatan/perlengkapan yang vital bagi perusahaan di ikat sehingga tidak terjatuh sewaktu gempa datang, atau peralatan tersebut bisa dipastikan aman dari reruntuhan seandainya gempa terjadi dll…….)”

    Mas Didik, anda tidak salah, namun demikian untuk suatu perusahaan, menerapkan manajemen bencana dalam rangka usaha untuk menghadapi ancaman lebih dari menambah ketinggian lantai ataupun mengikat alat supaya tidak terjatuh pada saat gempa terjadi ataupun mengusahakan agar sistem tidak lumpuh. Upaya dalam menghadapi ancaman harus lebih dari itu. Penerapan Manajemen Bencana yang baik sudah mengatur sistem backup and recovery plan yang diinstall dibeberapa tempat/multisite yang antar satu lokasi dengan lokasinya sangat berjauhan (bisa berbeda pulau bahkan beda benua).
    Dalam satu kasus terjadi suatu bencana yang tanpa perkiraan sebelumnya terjadi banjir/gempa/aksi kriminal/api yang mengakibatkan seluruh dokumen, data dan komputer rusak hingga mengakibatkan operasi perusahaan lumpuh. Bagi Perusahaan yang sudah menerapkan DRP dengan baik, maka sesungguhnya perusahaan tersebut telah terhindar dari ‘Bencana yang sebenarnya”. Mengapa? Karena bagi perusahaan dokumen adalah asset yang paling penting. Dengan menerapkan Manajemen Bencana perusahaan tsb bisa segera relokasi kantor dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengakses data dan dokumen yang terletak pada lokasi remote site, dengan cara ini perusahaan bisa segera beroperasi kembali dan meminimalisir kerugian yang terjadi karena bencana.

    Mas Didik bilang:
    “Nah dari apa yang sedikit saya sampaikan ini, kita bisa mengatakan bahwa apa yang disebutkan bencana oleh Mas Panca kurang tepat karena seperti keamanan dari elektrik dll itu merupakan kerentanan saja. Demikian juga seperti Banjir, Badai, Petir dll ini hanya fenomena saja, nah baru dikatakan bencana apabila ada banjir yang melumpuhkan aktivitas perusahaan misalnya.”

    Mas Didik yth, substansi dari konteks Manajemen Bencana adalah bukan apa yang menyebabkan terjadinya bencana dan juga bukan apa akibat dari bencana, Substansi Manajemen Bencana adalah suatu sistem yang dibangun untuk melakukan ()persiapan dan prosedur ketika bencana datang, ()suatu sistem yang dibangun untuk memperkecil/memperingan (mitigation) kerugian akibat bencana, ()bagaimana merespon ketika terjadi bencana dan ()bagaimana manajemen/organisasi melakukan pemulihan pasca bencana.
    (Dalam konteks perusahaan) Saya kurang setuju atas definisi Mas Didik yang menyatakan sesuatu baru dapat dikatakan bencana apabila melumpuhkan aktivitas perusahaan. Saya memiliki alasan kenapa tidak setuju dengan yang Mas Didik sampaikan.

    Sebagai contoh sebuah kejadian (yang walaupun tidak melumpuhkan aktivitas perusahaan (secara keseluruhan)) , tetapi dapat dikategorikan sebagai sebuah bencana.
    Jika kita masih ingat kejadian kebakaran yang terjadi di Kantor Pertamina Jakarta pada tanggal 16 Oktober 2006. Berdasarkan hasil forensik yang dilakukan oleh Polisi dinyatakan bahwa terjadinya kebakaran diduga akibat sabotase. (Berdasarkan referensi tentang Manajemen Bencana yang telah saya sebutkan diatas, Sabotase atau Aksi Kriminal merupakan salah satu faktor penyebab bencana).
    Kebakaran terjadi di Lantai 18 Ruang Niaga, Lantai 19 Ruang Bagian Perkapalan dan Lantai 20 Ruang Direktur Utama. Saya jelaskan sedikit bahwa di 3 lantai yang terbakar tersebut terdapat dokumen-dokumen sangat penting tentang laporan penjualan dan dokumen-dokumen milih direktur. Anehnya kebakaran terjadi pada saat (waktu itu) Direktur Pertamina sedang tersandung masalah hukum.
    Akibat dari kebakaran itu sistem komputer terganggu, Transaksi berjalan secara manual, dan dokumen-dokumen penting hangus terbakar. Padahal dokumen-dokumen ini sangat dibutuhkan oleh negara untuk proses peradilan. Kebakaran kecil ini tidak menimbulkan korban jiwa dan tidak membuat perusahaan lumpuh. Tetapi dibalik bencana kecil ini ada kerugian yang sangat besar. Apakah kebakaran “kecil” ini tidak dapat kita sebut sebagai bencana ?
    Tentu saja kebakaran ini adalah bencana, kita dapat melihat dari beberapa angle (ekonomi, sosial, politik) bahwa kejadian ini merupakan sebuah bencana.
    Jika saya pertamina sudah menerapkan DRP yang diimplementasikan dalam bentuk Disaster Recovery Center (DRC) maka dokumen-dokumen yang rusak karena kebakaran dapat segera didapatkan kembali

    Mas Didik bilang :
    “Ok segini dulu share wacana mengenai disaster manajemen dari saya, kapan-kapan disambung lagi ya bagaimana membuat SOP di perusahaan untuk disaster preparedness termasuk proses-proses pengkajian yang harus dilakukan sebelum membuat SOP”

    Ok Mas Didik, saya tunggu ya diskusi lanjutannya. Saya tunggu Mas untuk pastisipasinya dalam membuat SOP.
    Wassalam

  7. oke mas panca kalo boleh saya gunakan panggilan tersebut, saya widi seorang mahasiswa yang sedang berusaha menjadi seorang analis disaster recovery planning. setelah saya melihat diskusi mas dengan teman-teman mengenai DRP ini saya rasa juga tertarik dengan diskusi virtual ini, saya sendiri sedang berkutat dengan permasalahan mengenai penaganan suatu pusat informasi di lingkungan departemen keamanan di Indonesia yang memerlukan suatu penanganan khusus dalam keadaan bencana, kalau boleh dikatakan hal ini menjadi kompleks karena saya belum mengetahui langkah awal apa yang dilakukan seharusnya jika suatu pusat informasi yang menjadi ujung tombak mengirimkan informasi di suatu daerah kepad wilayah pusat mengalami kondisi darurat ataupu dalam kondisi bencana. saya rasa mas panca dan saya bisa saling tukar pendapat mengenai hal tersebut.

  8. Mas Panca salam kenal yach…dan salam kenal buat semuanya…Mas, ada nggak yach…buku BCM atau BCP edisi Indonesia ???? kalau ada dimana dan apa judulnya…???? soalnya sekarang masalah dimaksud lagi seru-serunya, semua kantor sedang membicarakannya …..selain itu ada tugas dari Bos …disuruh buat kajian BCM….makasih yach Mas….ditunggu loch informasinya….

  9. Mas saya ingin bertanya tentang perancangan bangunan/ruangan untuk DRC Site buat nyimpen server2 sama backup2 storage gitu loh kayak data center kedua cuman belom bisa disebut data center baru disaster recovery center, background saya bukan teknik sipil tapi IT ada materi yang bagus mas..gitu aja deh……..

  10. Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Salam kenal, Mas Panca saya seorang mahasiswi tingkat akhir yang ingin menulis Skripsi tentang DRC di suatu instansi pemerintah tertentu, instansi pemerintah tersebut merupakan suatu instansi yang memegang peran penting.Kira-kira hal pertama yang haru saya lakukan apa? dan mohn diberitahu judul2 buku yang berhubungan dg DRC tsb?
    Mohon dibalas n Syukron atas jawabannya.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  11. maaf mas,mau ikut nimbrung. Apakah sistem pem-backupan data termasuk dalam DRP juga mas. toh DRP setau saya merupakan salah satu sistem penyelamatan terhadap suatu organisasi dari suatu bahaya yang telah terjadi.Jadi hal tersebut ketara gunanya bila sudah terjadi suatu kasus. contoh bila suatu organisasi kehilangan data, terdapat back up-an data tersebut.Mohon koreksi

  12. hai hai.. , salam kenal, nama saya akhmat saya sekarang bekerja di perusahaan industri beton BUMN di jkt , sekarang ini saya juga sedang mengkaji masalah DRP.

    nyonk2 (07:07:59) :

    maaf mas,mau ikut nimbrung. Apakah sistem pem-backupan data termasuk dalam DRP juga mas. toh DRP setau saya merupakan salah satu sistem penyelamatan terhadap suatu organisasi dari suatu bahaya yang telah terjadi.Jadi hal tersebut ketara gunanya bila sudah terjadi suatu kasus. contoh bila suatu organisasi kehilangan data, terdapat back up-an data tersebut.Mohon koreksi

    menurut saya , ya.. sistem pem-backupan data termasuk dalam DRP , sebab inti dari DRP sendiri adalah bagaimana respon perusahaan dalam menangani sebuah bencana, baik itu dari user failure maupun dari bencana lain yang mengakibatkan perusahaan tidak dapat beroperasi. ketika terjadi sebuah kasus, misalnya kehilangan data ataupun hardware failure (kasus yang sangat sederhana), bagaimana perusahaan merespon kasus tersebut, berapa lama perusahaan tersebut mampu merecovery atau memulihkan data, ini termasuk didalam disaster recovery planning. Kita tidak perlu selalu melihat bencana itu berasal dari alam ataupun memikirkan hal-hal yang dapat merusak kontinuitas sebuah perusahaan. hal kecil pun dapat merusak kontinuitas perusahaan ataupun dapat menurunkan produksi sebuah perusahaan.

  13. Aww Mas Panca saya memerlukan penjelasan dari pint-point tahapan DRP. Oleh karena itu mohon dijelaskan seceptanya mengenai tahap-tahap yang ada di DRP, Mas Panca hanya memberikan point-pointnya saja tetapi tidak memberikan keterangannya.Terimakasih banyak. Www

  14. salam kenal buat mas panca
    mas kalo drp atau bcp sebenarnya ada standardnya ga sih?

  15. Assalamualaikum.. Salam kenal Mas Panca..
    Punya template untuk dokumen DRP ga Mas?
    Kalau punya, boleh saya minta?
    Sulit nih dicari di internet..
    Terima kasih sebelumnya..

  16. thanks yo infonya mas

  17. @Inay, Walaikum salam . Salam kenal juga.
    Mbak Inay untuk template Disaster Recovery Plan bisa di download di https://panca.wordpress.com/2008/07/26/template-business-continuity-plan/

    silahkan didownload.

  18. asslakm mas panca, salam kenal. saya sekarang lg knsen ke masalah disater management untuk coastal dan small island development. punya informasinya ga mas, klau ada saya minta ya. agak sulit nich dicari di internet
    terima kasih sebelumnya a

    salam
    din

  19. mas…aku mo nanya dunk…
    “Analisis sistem pengamanan yang digunakan pihak penyedia jasa IT termasuk di dalamnya yaitu DRP, DRC, DC dan BCP”
    kira-kira pengamanan yang harus dilakukan pihak penyedia jasa terhadap DRP, DRC, DC dan BCP apa yach mas…?
    aq ngeblank ney…
    tolong yach mas…

    trimakasih
    salam
    NoViE_85

  20. @novie, Analisis sistem pengamanan dalam konteks DRP adalah keamanan kepada faktor-faktor gangguan yang bisa mengakibatkan kegagalan sistem. Misalnya karena kriminalitas, untuk itu perlu dibikin sistem keamanan (security accses) yang tidak rawan dari tindakan kriminal.

    contoh faktor keamanan lainnya : aman dari kebanjiran, dari kebakaran.

    contoh lainnya adalah perlunya dibuat sistem backup / storage dengan sistem redundan yang penempatannya diberbeda lokasi.

  21. Mas Panca, lam kenal ya, aku lagi cari reason apakah H/W katakanlah server di Data center dan di DRC harus satu brand atau model ? apa ada rekomendasinya ?

    Makasih

    • Salam kenal Mas Zainul. Terimakasih sudah mampir kemari.

      Mas Zainul, Secara prinsip tidak ada alasan khusus kalo server di Data Center dan di DRC harus satu brand.

      Kalo ditanya rekomendasi produk yang dipakai, kebetulan dikantorku menggunakan produk NetApp.

      Semoga bermanfaat

  22. mau nanya..DRC sendiri apa bisa dibuat dalam bentuk aplikasi (misal java, php atau yang lainnya) gak??

    misalkan bisa, bisa berikan contohnya buat saya?

  23. Mas Panca, setahu saya DRC banyak dibuat oleh industri perbankan krn memang aturan BI mensyaratkan demikian.
    Kalau network provider (Indosat, Telkom, XL) apakah mereka juga harus memiliki DRC ?. Mohon penjelasannya Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s