Posted by: panca | August 8, 2009

Case Study: “Sharepoint, harus memulai dari mana ?”

Ya. Harus dimulai dari mana ? pertanyaan yang sederhana dan mendasar.

Cukup mendasar tapi menjadi suasana hangat ketika manajemen melontarkan pertanyaan itu. Kami cukup bingung menjawabnya karenakan memang belum punya dasar dan data yang cukup untuk menjawab.

Secara teknis, kemampuan teman-teman yang tergabung dalam developer team tidak perlu diragukan. Pun demikian, pertanyaan ini memeras otak kami. Bagaimana tidak ? tiap orang punya pandangan yang berbeda. Semua pandangan memang bagus , bagus dalam artian tidak menyalahi standard best practise. Tetapi di kick of meeting ini terbukalah bahwa persepsinya masih berbeda-beda.

Sebagai team leader, saya punya PR untuk menyatukan persepsi dan menjawab pertanyaan “harus mulai darimana?”.

Jujur saja, saya tergelitik dan tertantang dengan pertanyaan itu. Sayapun melakukan pencarian untuk menemukan jawabannya.

Pasca meeting, saya menelusuri berbagai tempat, berbagai groups, berbagai forums dan berbagai macam resources lain yang membahas tentang Sharepoint.

Artikel dan berbagai case study yang konteksnya related saya pelajari.

Alhasil, saya baru menyadari bahwa pertanyaan “harus memulai darimana?” sama seperti pertanyaan “duluan mana ayam dan telur?”.

Tiap-tiap orang mempunyai perspektif jawaban yang berbeda-beda, bukan ? Bahkan bukan tidak mungkin 2 orang filsuf bisa membahas ayam dan telur hingga berbulan-bulan tanpa pernah selesai.

Perlu waktu cukup lama hingga saya menemukan jawaban yang saya cari. Apakah jawabannya ?

Jawabannya adalah : “walk before run” .

Ya. WALK BEFORE RUN.

Melalui istilah ini kami menemukan kesamaan dan jawaban bahwa dari berbagai masukan dan pendapat yang ada kita tidak perlu ragu atau bingung untuk memulai dari mana. Yang paling penting adalah kita harus bisa mengambil keputusan untuk memulai dari mana.

Manajemen-pun sepakat dengan jawaban tersebut lalu munculah pertanyaan berikutnya yaitu tentang strategi pembangunan Sharepoint.

Untuk pertanyaan itu kami sudah siap dengan jawabannya sembari mengeluarkan bermacam macam worksheet berdasarkan best practise dari Microsoft.

Lalu apa inti dari tulisan saya ini ? Pesan dari Case Study ini adalah bahwa dalam membangun Sharepoint janganlah kita terpaku kepada textbook. Kenapa? karena Sharepoint itu sangat dinamis dan menuntut kita untuk improvisasi.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat teman-teman yang baru pertama kali akan melaksanakan pembangunan Sharepoint.

Salam.


Leave a response

Your response:

Categories